![]() |
Morgan Ortagus, Wakil Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah. (foto:lbcgroups) |
A+ | Washington – Dalam wawancara dengan Fox News pada Ahad (23/3) pekan ini, Wakil Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Morgan Ortagus, dengan bangga menyatakan bahwa Washington telah “membebaskan Israel” dengan memberikan “semua senjata yang dibutuhkannya” untuk melanjutkan agresinya di Gaza.
Lebih lanjut, Ortagus menyebut bahwa di masa pemerintahan Joe Biden, Israel “berperang dengan satu tangan terikat di belakang punggung mereka” akibat keterbatasan pasokan senjata. Namun, ketika Donald Trump kembali ke Gedung Putih, batasan itu dihapus.
Perdagangan Kematian dalam Angka
Bulan Januari 2025, hanya beberapa minggu sebelum Biden lengser, Washington menyetujui penjualan peralatan militer senilai USD 20 miliar ke Israel. Tidak berhenti di situ, pada bulan Maret, Trump kembali mengesahkan penjualan senjata senilai USD 3 miliar, mempercepat pengiriman rudal, bom, dan peluru artileri ke Tel Aviv.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, bahkan secara terang-terangan mengakui bahwa ia telah menandatangani deklarasi darurat untuk mempercepat bantuan militer sebesar USD 4 miliar ke Israel. Secara keseluruhan, sejak Trump kembali berkuasa, total bantuan dan penjualan senjata mencapai hampir USD 12 miliar.
Langkah Washington ini menghapus kebijakan Biden sebelumnya yang mengharuskan jaminan bahwa senjata AS tidak akan digunakan untuk melanggar hukum hak asasi manusia. Dengan kata lain, pembantaian di Gaza kini mendapatkan restu resmi dari Gedung Putih.
Dunia Marah, AS Tak Peduli
Sementara darah anak-anak Palestina terus mengalir di jalanan Gaza, Gedung Putih justru berupaya merampingkan prosedur penjualan senjata agar lebih banyak lagi alat pembunuh dikirim ke Israel.
Kecaman internasional mengalir deras. PBB, negara-negara Timur Tengah, dan bahkan sebagian negara Eropa menegaskan bahwa langkah AS ini hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat Palestina.
Namun, Washington tetap pada pendiriannya. Tidak ada diplomasi, tidak ada gencatan senjata, hanya perang yang terus diberi bahan bakarnya.
Sementara dunia mengecam, Gaza berjuang sendiri. Yang tersisa kini hanyalah pertanyaan: sampai kapan Amerika Serikat akan terus membiarkan bahkan memfasilitasi genosida ini berlangsung?
0 Komentar