Header Ads Widget

Header Ads

A+

6/recent/ticker-posts

Di Antara Bencana dan Ingatan yang Tak Boleh Lupa


 

A+ | Jakarta, pagi itu. Di lantai 15 Graha BNPB, ratusan orang berkumpul. Mereka datang dengan satu niat: membicarakan bencana sebelum bencana datang. Di ruangan itu, suara-suara berlapis data dan proyeksi bersahutan, namun ada satu hal yang tak bisa diukur: nyawa yang hilang, rumah yang hanyut, atau tanah yang merekah karena hujan tak kunjung reda.

Rakornas Penanggulangan Bencana 2025 mengambil tema yang terdengar tegas — "Meningkatkan Kemampuan Daerah dalam Pengurangan Risiko Bencana." Sebuah kalimat yang lebih dari sekadar jargon. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengingatkan para kepala daerah bahwa kesiapsiagaan tak bisa ditunda. Bencana tak mengenal kalender, juga tak menunggu janji-janji pembangunan.

"Rakornas ini bukan sekadar seremoni. Ini panggilan bagi daerah untuk lebih sigap," katanya.




Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, bicara tentang air. Bukan air yang menyejukkan, melainkan yang meluap, merangsek, dan menenggelamkan kota. Ia menyebut banjir di Bekasi, awal Maret lalu. Air datang tanpa kompromi, menyisakan rumah-rumah yang terendam dan jalan-jalan yang berubah jadi sungai dadakan.

"Air tak bisa dibohongi. Ia hanya mencari jalannya sendiri," ucap Pratikno.

Di ujung cerita banjir itu, ada hulu yang dirusak dan hilir yang tak kuasa menampung. Alam mengingat, meski manusia sering lupa.


Di Antara Data dan Kehilangan


Data BNPB mencatat: 95 persen bencana yang terjadi sepanjang 2024 adalah bencana hidrometeorologi. Banjir, longsor, dan angin kencang. Angka-angka itu memadat di laporan resmi, tapi di baliknya ada wajah-wajah yang kehilangan.

  • 5.678 bencana dalam setahun
  • 8,1 juta jiwa terdampak
  • Rp 12,7 triliun kerugian ekonomi

Namun, di tengah angka-angka itu, ada upaya yang tak ingin luput. Senkom Mitra Polri, misalnya. Sebagai organisasi yang bergerak dalam penanggulangan bencana, mereka hadir di Rakornas melalui perwakilannya, Tri Joko. Ia bicara tentang kesiapan masyarakat, tentang pentingnya pelatihan dan mitigasi.

"Ketika daerah siap, bencana tak lagi jadi bencana besar," ujarnya.

Senkom, bersama relawan dari PMI, MDMC, hingga LPBI NU, menjadi perpanjangan tangan di lapangan. Di antara sirene peringatan dini dan hujan yang turun tanpa aba-aba, mereka adalah garis pertama yang menyelamatkan.


Ingatan yang Harus Dijaga


Di ruang Rakornas, diskusi terus mengalir. Para pejabat dan peserta merancang strategi, dan memetakan risiko. Tapi di luar sana, di kampung-kampung yang menghafal arah banjir dan mengukur tinggi air dengan dinding rumah, mitigasi bukan sekadar rencana — itu soal bertahan hidup.

Sejarah adalah catatan tentang apa yang telah terluka. Dalam penanggulangan bencana, ingatan itu harus dijaga. Bukan sebagai ketakutan, tapi sebagai peringatan.

Karena bencana, seperti juga kenangan, selalu punya cara untuk kembali.


Posting Komentar

0 Komentar