Header Ads Widget

Header Ads

A+

6/recent/ticker-posts

Jebakan Manis Penghapusan Denda: Tentang Pajak, Waktu, dan Sebuah Kesempatan

Bupati Kabupaten Bogor meninjau Samsat Cibinong


A+ | Di sebuah pagi yang gerah di Cibinong, antrean di kantor Samsat membeludak. Orang-orang berdesakan, menyeka keringat, mengantre dengan sabar—atau mungkin tidak. Mereka tidak sedang menunggu sembako, bukan pula korban birokrasi yang kejam. Mereka datang untuk membayar pajak.

Dari sudut seorang pengamat, pemandangan itu nyaris ironis. Pajak, yang kerap dianggap sebagai beban, kini dicari orang. Bukan karena kesadaran yang mendadak tumbuh, tapi karena sebuah kesempatan: penghapusan denda.

Satu kebijakan kecil dari pemerintah, dan tiba-tiba uang mengalir deras. Tak main-main, pendapatan pajak kendaraan di Kabupaten Bogor naik 105 kali lipat. Ada yang menyebutnya keajaiban fiskal. Tapi di balik itu, terselip ironi yang menggelitik: selama ini, berapa banyak pajak yang dibiarkan menggumpal dalam daftar tunggakan?


Waktu yang Tak Pernah Terhapus

Ada satu pelajaran dari waktu: ia tidak bisa dihapus. Tapi denda bisa. Logika sederhana dari kebijakan ini adalah memberi kesempatan kedua—kesempatan bagi kendaraan-kendaraan yang mati di atas kertas untuk kembali hidup dalam sistem administrasi.

Para pemilik kendaraan yang dulu memilih bersembunyi kini muncul ke permukaan. Pajak yang selama ini tertinggal di masa lalu tidak perlu lagi dibayar. Cukup bayar yang sekarang. Itu saja.

Bagi mereka yang telat bertahun-tahun, ini tentu anugerah. Seperti orang yang terlilit utang riba, lalu tiba-tiba mendapati dirinya bebas tanpa harus membayar bunga. Sebuah pelepasan. Tapi pelepasan yang juga punya harga.

Karena sejatinya, ini bukan sekadar penghapusan denda. Ini adalah taktik ekonomi.


Di Balik Angka-Angka

Jaro Ade, Wakil Bupati Bogor, mendatangi Samsat dan mendapati angka yang fantastis. Pajak kendaraan yang biasanya berjalan lesu, tiba-tiba melonjak drastis.

Tapi angka, seperti biasa, selalu punya cerita sendiri.

Di atas kertas, mungkin ada orang-orang di pemerintahan yang menangis karena kehilangan potensi denda. Tapi apa artinya potensi jika hanya berakhir sebagai angka yang tak pernah berubah?

Dalam ekonomi fiskal, lebih baik mendapat kepastian kecil daripada menunggu kepastian besar yang tak kunjung datang. Pajak yang tak tertagih bukan lagi aset. Ia hanyalah angka mati. Dengan kebijakan ini, angka-angka itu kembali hidup.

Dan tentu saja, pemerintah berharap: setelah sekali bayar, mereka akan membayar lagi tahun depan.


Jebakan atau Rezeki?

Kata "jebakan" selalu punya konotasi negatif. Tapi tidak semua jebakan buruk. Ada jebakan yang membuat seseorang jatuh ke dalam kebaikan.

Masyarakat mungkin merasa seperti sedang "terperangkap" dalam sistem yang akhirnya membuat mereka patuh. Tapi bukankah kepatuhan adalah bagian dari keteraturan? Dan bukankah keteraturan adalah pondasi bagi masyarakat yang ingin maju?

Di luar Samsat, antrean mulai surut. Matahari masih terik. Jalanan tetap sibuk. Dan roda ekonomi fiskal, seperti roda kendaraan yang baru dibayar pajaknya, terus berputar.

Pajak itu berat, tapi negara tetap berjalan. Kadang dengan aturan ketat, kadang dengan memberi jeda. Dan di tengah-tengah itu, ada kita, yang selalu mencari celah—entah untuk bersembunyi, atau akhirnya muncul dan memenuhi kewajiban.

Karena pada akhirnya, jebakan ini tak selalu buruk. Kadang, ia hanyalah rezeki yang datang dalam bentuk lain.



Posting Komentar

0 Komentar