A+ | Sore itu, di pos sekuriti redaksi TEMPO, sebuah kardus cokelat tergeletak. Kardus itu tampak biasa saja, namun ketika dibuka, seisi kantor tercengang: di dalamnya terdapat kepala babi depan kuping terpotong. Darahnya mulai mengering, meninggalkan aroma yang menyengat. Sebuah pesan yang tak memerlukan banyak kata untuk dimengerti.
Namun, di balik seramnya simbol ini, kepala babi adalah representasi yang lebih kompleks. Ia membawa beban sejarah panjang, meresap dalam mitos, agama, dan budaya.
Babi dalam Mitologi dan Simbolisme
Di banyak tradisi, babi memiliki makna ganda. Di satu sisi, ia adalah simbol kekotoran, kerakusan, atau keserakahan. Di sisi lain, babi juga melambangkan kemakmuran dan kelimpahan.
Dalam mitologi Cina, babi adalah salah satu dari dua belas shio. Shio babi melambangkan kejujuran, ketulusan, dan keberuntungan. Di dunia Barat, khususnya dalam cerita rakyat Eropa, babi sering dikaitkan dengan kemewahan dan perayaan. Daging babi adalah suguhan istimewa saat musim panen berakhir.
Sebaliknya, dalam tradisi Yahudi dan Islam, babi dianggap najis. Dalam Alkitab Ibrani, babi dilarang sebagai makanan karena dianggap tidak memiliki kekudusan. Begitu pula dalam Al-Qur'an, babi disebut sebagai hewan yang diharamkan.
Namun, ada juga simbolisme perlawanan dalam penggunaan kepala babi. Dalam novel "Lord of the Flies" karya William Golding, kepala babi yang ditancapkan menjadi simbol kekacauan dan kehancuran moral. Kepala itu adalah perwujudan dari "The Beast" atau kebiadaban yang muncul ketika manusia kehilangan kendali atas naluri liar mereka.
Konteks Sosial: Ancaman di Balik Simbol
Pengiriman kepala babi ke kantor media seperti TEMPO bukan sekadar bentuk ancaman fisik. Ini adalah simbol yang dimaksudkan untuk mengintimidasi. Kepala babi berbicara tentang ketakutan, penghinaan, bahkan kekuasaan yang tengah diuji. Di dunia jurnalistik, ancaman seperti ini sering kali menjadi peringatan bagi mereka yang menyuarakan kebenaran.
Sejarah mencatat berbagai bentuk ancaman simbolik kepada pers. Di Amerika Latin, jurnalis kerap menerima amplop berisi peluru sebagai ancaman dari kartel narkoba. Di Eropa Timur, koran oposisi sering kali mendapat simbol kematian seperti bangkai binatang.
Namun, dalam konteks Indonesia, kepala babi menyentuh sensitivitas agama dan budaya. Di negara dengan mayoritas Muslim, simbol ini ditafsirkan sebagai penghinaan terhadap keyakinan. Ini adalah bentuk psikologis dari kekerasan, menargetkan aspek paling mendasar dari identitas seseorang.
Filosofi dan Paradoks Babi
Menariknya, dalam filsafat, babi juga memiliki peran penting. Filsuf Prancis Michel Serres pernah membahas bagaimana babi menjadi simbol hubungan manusia dengan kekotoran dan kemurnian. Babi hidup di lumpur, memakan sisa-sisa, namun tetap menjadi sumber pangan yang berharga bagi sebagian masyarakat.
Babi juga hadir dalam kritik filsafat hedonisme. Epikurus, filsuf Yunani kuno, sering dikarakterisasi sebagai seseorang yang hidup seperti babi karena ajarannya tentang kenikmatan. Namun, bagi Epikurus, kenikmatan bukan berarti kerakusan, melainkan pencapaian ketenangan jiwa.
Menghadapi Ancaman: Jurnalisme yang Bertahan
Bagi TEMPO, ancaman ini bukan yang pertama. Sejak era Orde Baru, majalah ini kerap menjadi sasaran intimidasi. Namun, seperti yang berulang kali ditunjukkan, kekuatan pers tidak terletak pada kebal terhadap ancaman fisik, melainkan pada keberanian untuk terus menulis.
Di dunia yang semakin sarat dengan simbol dan pesan tersembunyi, kepala babi di gerbang redaksi menjadi pengingat bahwa kebebasan pers selalu dibayar dengan harga tertentu. Dan harga itu, sering kali, adalah keberanian untuk menghadapi gelapnya ancaman dengan terang kebenaran.
Sebagai pembaca, kita diundang untuk melihat lebih dalam. Di balik simbol itu, ada narasi panjang tentang kekuasaan, ketakutan, dan perlawanan. Kepala babi, dengan segala bebannya, bukan sekadar ancaman. Ia adalah sebuah cerita yang layak untuk diceritakan kembali.
Ramadan Bercerita 2025: Tentang Babi di Redaksi TEMPO
Di bulan Ramadan, kisah itu masih bergema. Pengiriman kepala babi dalam kardus ke redaksi TEMPO menjadi simbol bisu yang berbicara tentang ketakutan dan keberanian. Di saat banyak orang menjalani puasa dengan menahan amarah dan hawa nafsu, ada yang memilih jalan sebaliknya — mengirim pesan melalui simbol kekerasan.
Namun, Ramadan juga mengajarkan makna perenungan. Babi, yang dalam banyak ajaran dianggap najis, justru menjadi cerminan atas kerakusan, keserakahan, dan ketidakadilan. Di sisi lain, ia juga menjadi simbol kekuatan untuk menghadapi ketakutan.
Ketika malam-malam Ramadan dilalui dengan tafakur, ada pertanyaan yang menggelayut: Siapa yang sebenarnya ditakuti? Wartawan yang menyampaikan kebenaran, atau mereka yang takut pada bayang-bayangnya sendiri?
Redaksi TEMPO mungkin telah menerima kardus berisi ancaman, tapi mereka juga menerima sebuah pengingat — bahwa suara yang jujur tak bisa dibungkam. Ramadan bercerita tentang perjuangan manusia melawan hawa nafsu, dan bagi jurnalis, itu berarti melawan bisikan-bisikan yang ingin menghapus kebenaran.
Karena setelah sahur dan tarawih, akan selalu ada pagi. Dan di pagi itu, berita tetap ditulis.
Artikel ini sebelumnya telah tayang di SINI
0 Komentar