Header Ads Widget

Header Ads

A+

6/recent/ticker-posts

Kisah Hikmah: Harga Sebuah Integritas di Balik Peluru yang Melayang




Kisah Hikmah - Di sebuah sudut desa di Lampung, suara ayam berkokok bukan lagi sekadar penanda pagi. Bagi sebagian orang, itu adalah panggilan menuju arena sabung ayam, tempat taruhan mengalir deras. Bukan hanya warga biasa yang terlibat, tapi juga sosok-sosok berseragam yang seharusnya menjadi penjaga hukum dan keamanan.  

Peristiwa tragis itu bermula dari tumpukan uang setoran. Komandan Pos tentara setempat (Ramil, selama ini rutin menyetorkan sebagian hasil perjudian kepada Kepala Polisi setempat. Namun, sebagaimana api yang membara di sekam, ketidaksepakatan akhirnya meledak menjadi tragedi berdarah.  

Kepala kepolisian beserta dua anggotanya tewas di ujung senjata, bukan oleh musuh yang mengancam negeri, tetapi oleh konflik yang berakar pada ketamakan. Peluru yang melesat di tengah perselisihan itu seakan menjadi simbol betapa hukum dapat dilukai oleh tangan yang seharusnya menegakkannya. Hingga kini, soal siapa yang melakukan penembakan masih diusut. Sebab daerah tersebut memang dikenal kusut, bak Texas, senjata api beredar selayaknya korek api.

Namun, di balik duka yang mendalam, ada sebuah hikmah yang tak boleh diabaikan. Peristiwa ini menjadi cermin bagi kita semua bahwa godaan uang haram tak memandang pangkat maupun jabatan. Ketika integritas tergadai, kepercayaan masyarakat pun runtuh.  

Setiap seragam yang dikenakan membawa amanah. TNI dan Polri, sebagai garda terdepan penjaga negeri, dituntut untuk menjadi teladan. Integritas bukan sekadar slogan, melainkan komitmen yang teruji di saat godaan datang. Uang setoran yang diterima hari ini mungkin terasa manis, tetapi harga yang harus dibayar bisa jadi jauh lebih pahit.  

Tragedi ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa perjudian bukan sekadar permainan, melainkan lingkaran setan yang menghisap moralitas dan menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Di setiap sudut lapangan sabung ayam, bukan hanya ayam yang bertarung, tetapi juga nurani manusia yang terus diuji.  

Kini, tiga  nyawa melayang dan dua lagi terbelenggu oleh jeruji besi, marilah kita renungkan: Apakah harta yang diperoleh dengan cara tak halal benar-benar sepadan dengan harga yang harus dibayar?  

Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran bagi semua, bahwa dalam setiap keputusan, suara hati yang bersih adalah pelindung sejati. Dan bagi mereka yang masih berjuang menjaga integritas, yakinlah bahwa kejujuran mungkin tak menjanjikan kemewahan, tetapi ia akan selalu membawa kedamaian.  

Sebab, dalam sejarah hidup manusia, kehormatan sejati tak pernah lahir dari tumpukan uang, melainkan dari pilihan untuk tetap berpegang teguh pada kebenaran.


* * *

Kisah Hikmah ini disarikan dari peristiwa tragis di arena Sabung Ayam, Way Kanan, Lampung, 17 Maret 2025

Autentikasi: Kapendam II/Sriwijaya Kolonel Inf Eko Syah Putra Siregar.
"TNI dan polisi sama-sama makan uang judi sabung ayam. Selama ini, Peltu Lubis yang menjabat Komandan Pos Ramil Negara Batin selalu menyetor uang sabung ayam kepada Kepala Polsek Negara Batin (Ajun Komisaris Anumerta Lusiyanto). Sebelum peristiwa kemarin, ada masalah antara keduanya karena tidak sepakat terkait setoran,” ujar Kepala Penerangan Kodam II/Sriwijaya Kolonel Inf Eko Syah Putra Siregar di Palembang, Kamis (20/3/2025) kepada media.



Posting Komentar

0 Komentar