Di tanah yang basah oleh luka,
Tiga nama terhapus senja.
Peluru bicara, nyawa tertukar,
Dan sunyi menjerit di udara.
Anak-anak bertanya pada ibu,
"Kemana ayah, kenapa tak pulang?"
Sedang di meja, sisa makan malam,
Membeku dalam kenangan panjang.
Way Kanan menangis malam itu,
Tapi suara yang hilang tak sendiri.
Sebab perempuan-perempuan berdiri,
Dengan marah yang sunyi, tapi abadi.
Keadilan tersesat di bilik gelap,
Di meja-meja dengan hukum terbelah.
"Bawa mereka ke peradilan umum!"
Teriak suara yang tak lelah.
Namun, seragam memagari kesalahan,
Senjata jadi saksi yang bisu.
Di mimbar, kuasa berbicara soal loyalitas,
Tapi siapa peduli pada nyawa yang layu?
Perempuan itu masih menunggu,
Di antara doa yang terkatup lesu.
Keadilan, katanya, bukan ilusi,
Melainkan janji di kitab suci.
"Jika tiada pedang yang jujur,
Maka biarlah sajak yang berseru."
Sebab di tanah Way Kanan yang luka,
Puisi adalah perlawanan yang tak pernah hampa.
0 Komentar